Kamis, 10 Mei 2012

Inilah Alternatif Jalur Saat "Car Free Day"
 
 Akibat gerimis, pelaksanaan car free day di Jalan Letjend Suprapto, Jakarta Pusat, Minggu (4/3/2012), hanya berlangsung hingga pukul 10.30.
JAKARTA - Sehubungan penerapan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) dengan pola baru, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan jalur alternatif bagi pengguna jalan. Mengingat akses kendaraan bermotor hanya dibuka di jalur lambat sekitar Semanggi saja.
"Dari SCBD sampai Karet tetap dibuka sedikit untuk para pengendara," kata Pristono, di Jakarta, Kamis (10/5/2012).
Sementara selepas itu, jalur lambat tertutup untuk kendaraan bermotor tiap hari Minggu pada pukul 06.00-11.00 WIB. Dengan demikian, jalur lambat tersebut hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki.
Berikut ini jalur alternatif yang telah disediakan untuk pengendara kendaraaan bermotor untuk menghindari Jalan Sudirman-Thamrin, yaitu :
Alternatif dari Selatan - Utara
1. Dari Sisi Barat : Jalan Sultan Iskandar Muda - Jalan Pakubuwoni - Jalan Asia Afrika - Jalan Gerbang Pemuda - Jalan Gatot Subroto - Jalan Jenderal Soedirman (jalur lambat) - Jalan Bendungan Hilir - Jalan Karet Pasar Baru Barat - Jalan KH Mas Mansyur - Jalan Abdul Muis - Jalan Majapahit - dst.
2. Dari Sisi Timur : Jalan Panglima Polim - Jalan Sisingamangaraja - Jalan Trunojoyo - Jalan Senopati - Jalan Kapten Tandean - Jalan HR Rasuna Said - Jalan HOS Tjokroaminoto - Jalan Menteng Raya - Jalan Medan Merdeka Timur - dst.
Alternatif dari Utara - Selatan
1. Sisi Barat : Jalan Medan Merdeka Utara - Jalan Abdul Muis - Jalan Mas Mansyur - Jalan Karet Pasar Baru Barat - Kalan Penjernihan - Jalan Tentara Pelajar - Jalan Teuku Nyak Arief - Jalan Sultan Iskandar Muda - dst.
2. Sisi Timur : Jalan Lapangan Banteng - Jalan Medan Merdeka Timur - Jalan Menyeng Raya - Jalan Sam Ratulangi - Jalan HOS Tjokroaminoto - Jalan HR Rasuna Said - Jalan Kapten Tandean - Jalan Walter Monginsidi - Jalan Trunojoyo - dst.

Rabu, 09 Mei 2012

KPU: Kampanye Hitam Bisa Batalkan Hasil Pemilu
 Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta Dahliah Umar
JAKARTA — Jelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur atau Pilgub DKI Jakarta yang akan berlangsung 11 Juli mendatang, suhu politik di Ibu Kota kian memanas. Dalam beberapa hari terakhir, tudingan kampanye hitam atau black campaign justru marak dan menimpa para bakal calon gubernur  dan calon wakil gubernur DKI periode 2012-2017. Sayangnya, karena belum ditetapkan sebagai pasangan cagub-cawagub oleh Komisi Pemilihan Umum  DKI, Panitia Pengawas Pemilu  pun tak bisa menjerat pelaku dengan UU Pemilu.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Ramdansyah mengatakan, saat ini pasangan bakal calon gubernur  dan calon wakil gubernur (cagub-cawagub) yang terbukti melakukan kampanye hitam tidak bisa dijerat dengan UU Pemilu lantaran belum ditetapkan sebagai pasangan cagub-cawagub. Meski demikian, Panwaslu menegaskan,  para bakal cagub-cawagub hendaknya  dapat menjaga etika politik.
"Yang perlu diketahui, pasangan calon jika terbukti melakukan kampanye hitam atau pelanggaran lainnya bisa dijerat dengan undang-undang yang lain, seperti hukum pidana," ujar Ramdansyah, saat ditemui di Balaikota DKI, Selasa (8/5/2012).

Jika pasangan calon merasa dirugikan, menurut Ramdan, bukan tidak mengkin dia akan menjeratnya dengan pasal pencemaran nama baik. Oleh karena itu, Udang-Undang Hukum Pidana harus tetap diperhitungkan. "Dalam pemilu itu artinya bukan semuanya serba boleh dan serba dilarang. Tentu ada batas-batas yang wajib diperhatikan," katanya.

Dengan adanya kampanye hitam ini, tentu berpengaruh terhadap suhu politik di Ibu Kota. Bahkan, akibatnya banyak pihak yang akan dirugikan, termasuk masyarakat. "Ada orang yang dirugikan. Kegiatan kampanye hitam tidak bisa ditarik dengan undang-undang pemilu, tetapi bisa dengan undang-undang lain," katanya.

Meski demikian, Panwaslu mengimbau bakal pasangan calon yang merasa dirugikan bisa melakukan pengaduan meski belum ditetapkan oleh KPU DKI. Hal ini perlu dilakukan agar kampanye hitam tidak terulang saat para bakal calon ditetapkan menjadi cagub-cawagub.

Ketua KPU DKI Dahliah Umar mengatakan, pihaknya tidak bisa menjerat pasangan bakal calon yang terbukti melanggar karena belum ditetapkan sebagai pasangan cagub-cawagub. "Jika korban bisa menemukan pelaku dan terbukti, tentu bisa diproses pidana umum. Karena ini mencemarkan nama baik atau melakukan penghasutan atau penghinaan," kata Dahliah.

Menurut Dahliah, jika pihaknya menemukan unsur kampanye hitam yang dilakukan secara teroganisasi,  hal itu tentu bisa membatalkan hasil pemilu meski pasangan calon tersebut memenangi pemilu.
"Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan kemenangan pasangan calon dibatalkan atau ditindaklanjuti dengan penghitungan suara ulang. Dengan alasan politik uang atau black campaign secara masif yang menyebabkan itu dianggap MK (Mahkamah Konstitusi) bisa memengaruhi pemilih," katanya.

Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas), Alfan Alfian, mengatakan, kampanye hitam merupakan suatu fenomena dalam pelaksanaan pemilihan umum (pemilu), baik dalam pemilihan gubernur (pilgub) maupun pemilihan presiden (pilpres). Hanya saja, dirinya menganggap, cara-cara seperti ini tidak mencerdaskan masyarakat dalam berpolitik.

OLeh karena itu, meski kampanye hitam selalu menghantui saat pelaksanaan pemilu, dia meminta  masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh. Terlebih, masyarakat Ibu Kota sudah sangat cerdas dalam berdemokrasi dan berpolitik. "Cara-cara kampanye hitam tidak laku lagi bagi masyarakat Jakarta," katanya.

Kampanye hitam, kata Alfian, berbeda dengan kampanye negatif. Kampanye hitam dilakukan oleh pihak luar dan tidak bertanggung jawab dengan menjatuhkan sasarannya dan menguntungkan pelakunya. Meski demikian, cara itu bisa menjadi bumerang karena masyarakat justru akan bersimpati terhadap korban kampanye hitam.

Adapun kampanye negatif adalah berkampanye yang dilakukan secara terang-terangan oleh pihak lain untuk mengoreksi lawan politiknya. Sifat dari kampanye negatif lebih untuk meningkatkan legitimasi pada calon dan saling membangun. "Kita berharap pelaku politik ini lebih cerdas lagi mengedepankan calonnya. Bukan menjatuhkan dengan cara tidak fair," katanya.

Sebagaimana diberitakan , pada Selasa (8/5/2012) ditemukan kupon sembako gratis palsu yang mengatasnamakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Puluhan warga kemudian mendatangi kediaman pribadi Fauzi Bowo di Jalan Teuku Umar Nomor 24, Menteng, Jakarta Pusat, dengan membawa kupon palsu yang disebarkan oleh dua orang berbaju safari hitam.

Sebelumnya juga beredar selebaran yang menyatakan anti-Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Basuki Tjahaya Purnama. Serta anti-Alex Noerdin yang berpasangan dengan Nono Sampono dalam bursa Pilgub DKI 2012-2017.

Senin, 07 Mei 2012

Penegakan Hukum Lemah, Biang Semrawutnya Jakarta
 
 Pekerja komuter menembus kemacetan di ruas Jalan Daan Mogot, Pesing, Jakarta Barat, Kamis (19/4/2012). Setiap harinya, 2-3 juta warga sekitar Jakarta berjuang menembus macet untuk mencapai tempat kerja mereka di Jakarta.
JAKARTA - Kondisi semrawutnya kota Jakarta saat ini disebabkan oleh lemahnya sistem penegakan hukum yang ada. Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menginginkan adanya penyempurnaan peraturan dan peningkatan kualitas petugas keamanan.
"Masih banyak peraturan yang harus disempurnakan. Kualitas petugas keamanan juga belum mumpuni. Masalah penegakan hukum ini merupakan salah satu kelemahan kami," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, di Balai Kota, Jakarta, Senin (7/5/2012).
Selama ini, lanjutnya, pemberian sanksi pada warga yang melanggar peraturan belum dapat dilaksanakan secara konsekuen. Karena tidak ada aturan untuk menindak warga langsung di tempat.
"Hukum itu memang harus ditegakkan dan sanksi harus dijalankan. Tapi memang agak complicated untuk memberikan sanksinya," ungkapnya.
Foke mencontohkan operasi yustisi, yang terbukti bukan penduduk DKI baru dapat dikenai sanksi setelah ada keputusan pengadilan. Jadi tidak bisa dilakukan di tempat itu juga. Menurut Foke, penegakan hukum di negara lain seperti Singapura dapat berjalan dengan baik karena warga yang melanggar dapat langsung dikenai sanksi berupa denda.
"Kalau di negara lain, law enforcement bisa berjalan dengan tegas karena bisa langsung. Penegakan hukum itu kan harus tegas," katanya.

Minggu, 06 Mei 2012

Gelap, Luar Komplek Rumah Jabatan DPR Jadi Tempat Pacaran
 ILUSTRASI
JAKARTA - Ada yang berbeda ketika melintasi jalan sebelah luar tembok pagar bagian selatan rumah jabatan anggota DPR. Kondisi jalan dengan penerangan terbatas menyebabkan sisi kanan dan kiri jalan menjadi gelap.
Hal tersebut dimanfaatkan oleh pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara.  satu per satu pasangan muda mudi mulai berlalu-lalang dan berhenti di titik-titik gelap sepanjang jalan penghubung stasiun Duren Kalibata dengan kampus Stekpi tersebut.
Kondisi "pacaran berjamaah" menjadi pemandangan bagi para pengendara kendaraan yang melintasi ruas jalan tersebut. Dede, seorang pedagang kaki lima di lokasi yang tak jauh dari tempat tersebut mengungkapkan, setiap malam, lokasi tersebut memang ramai dikunjungi pasangan pria dan wanita.
"Biasanya pacaran, tapi nggak tau deh pacarannya ngapain," .
Dede yang sudah berdagang di lokasi tersebut selama 20 tahun juga mengungkapkan beberapa kali pernah diadakan razia, baik oleh ormas maupun petugas. Namun sayangnya, aksi razia tersebut masih belum bisa memberikan efek jera bagi para pasangan muda mudi di sana.
"Kemarin malem aja ada razia dari gerombolan orang pake sorban. Terus yang di sini pada kabur pake motor sendiri-sendiri," tambah Dede.
Dede juga menyampaikan, walau sudah bukan hal yang aneh lagi di tempat tersebut, dia tidak tahu apa saja yang dilakukan pasangan muda mudi yang memilih berpacaran di lokasi gelap tersebut. "Biasanya kalo ada warga yang protes, mereka bakal protes ke satpol PP," ujar Dede.

Sabtu, 05 Mei 2012

Djakarta Tempo Doeloe di Passer Koeningan
 Pasar Festival di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan
JAKARTA — Setelah sempat direnovasi selama lebih kurang dua bulan, area foodcourt Pasar Festival, Kuningan, yang menjadi salah satu jantung kuliner di Jakarta Selatan, kini telah beroperasi kembali. Dibuka lagi pada Rabu (2/5/2012) lalu, area foodcourt tersebut kini telah berganti baju dengan konsep Passer Koeningan.
Terletak di jantung Jalan HR Rasuna Said, tepatnya di lantai dasar Plaza Festival, Passer Koeningan mengemas suasana dengan konsep nostalgia "Djakarta Tempo Doeloe". Di area foodcourt, para pengunjung akan dibawa ke suasana tempat makan yang tidak biasa, terlebih jika dibandingkan dengan lokasi tempat Passer Koeningan berada, yang penuh dengan bangunan dengan konsep modern di Jakarta.
Candy Sutedi, Media and Promotion Manager Passer Koeningan, mengatakan, ada lebih dari 45 pilihan tenant, baik yang tradisional maupun yang sudah dikenal. "Dengan ambience old Jakarta dan suguhan aneka masakan cita rasa Nusantara dan Asia, kehadiran Passer Koeningan memang bertujuan menyajikan sesuatu yang berbeda," kata Candy Sutedi.
Passer Koeningan sendiri memiliki kapasitas tempat duduk 500 orang, baik di dalam ruangan maupun konsep outdoor seating. Area yang dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas wi-fi.

Jumat, 04 Mei 2012

Polisi Militer Kejar Korban "Koboy Palmerah" ke Kebayoran Baru
Peristiwa umbar tembakan oleh pengendara sepeda motor Toyota Avanza dengan plat milik TNI AD nomor 1394-00 terekam video yang kemudian diunggah ke Youtube, Selasa (1/5/2012) siang. Peristiwa umbar tembakan itu sendiri terjadi pada Senin (30/4/2012) pukul 14.00 WIB.

JAKARTA — SSP (25), korban aksi umbar tembakan "Koboy Palmerah", dicari-cari Polisi Militer Kodam Jaya hingga ke rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, tiga anggota Polisi Militer yang datang hanya sempat berpapasan dengan SSP dan belum bertemu dengan pemuda lulusan Australia.
Seorang kerabat dekat keluarga SSP, Warsono (50), menuturkan bahwa pada Rabu (2/5/2012) lalu, dirinya diminta aparat Polisi Militer untuk menunjukkan rumah SSP. "Waktu itu saya dipanggil sama pengamanan di kompleks itu, katanya ada yang penting. Saat saya datang, ada tiga orang pria yang ternyata Polisi Militer, tapi tidak berpakaian seragam," papar Warsono, Jumat (4/5/2012), saat dijumpai di kawasan Tomang, Jakarta Barat.
Ia menuturkan, saat itu dirinya diminta ikut ketiga anggota itu untuk menunjukkan jalan sampai ke rumah SSP. "Saya juga enggak bisa langsung menemukan anggota ini dengan SSP. Soalnya, saya harus pastikan ini berbahaya atau tidak," imbuh Warsono.
Ketiga anggota yang menaiki Suzuki Aerio itu, lanjutnya, tidak berhasil bertemu dengan SSP. Pasalnya, saat mereka tiba di lokasi, SSP baru saja keluar dengan mobilnya. "Enggak ketemu. Karena pas datang, papasan dengan mobil TNI. Saya ingat mukanya, dia pakai mobil keluar," imbuh Warsono.
Ketiga Polisi Militer itu juga tidak menyadari bahwa mobil yang baru saja berpapasan tadi adalah SSP. "Akhirnya, saya tunjuk aja itu rumah SSP, setelah itu anggota TNI tersebut saya tinggal," tandasnya.
Warsono mengaku tak mengetahui keberadaan SSP saat ini. Namun, Warsono yang sempat bekerja dengan bibi dari SSP selama belasan tahun itu mengenang bahwa SSP sosok anak baik. "Hanya saja, saya belum tahu cerita kronologi yang sebenarnya dari dia bagaimana. Yang saya tahu hanya dari video," tandas Warsono.
Diberitakan sebelumnya, SSP menjadi korban aksi umbar tembakan aparat TNI AD bernama Kapten MA pada Senin (30/4/2012) siang di depan kantor Kompas TV, Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Insiden itu direkam oleh warga sekitar.
Video berdurasi 2 menit dengan judul " Koboy Palmerah" itu kemudian diunggah oleh akun bernama Unplugged The TV pada Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 13.00.
Video tersebut dimulai dengan aksi Kapten MA yang tengah mengintimidasi SSP. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dari senjata yang dipegang Kapten MA. Saat itu, Kapten MA berdiri di belakang mobil Toyota Avanza berpelat nomor 1394-00 warna hijau milik TNI AD.
Ia terlihat emosional dan mulai menghardik SSP yang berkaus biru dan masih menggunakan helm putih berdiri di depan sepeda motor miliknya. Kapten MA juga menenteng senjata mirip senjata api jenis FN dan sebuah tongkat besi. Ia berkali-kali menghardik SSP sambil memukulinya dengan tangan ataupun senjata yang digenggamnya ke arah kepala dan paha SSP.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Andri, perselisihan di antara keduanya terjadi karena pengendara sepeda motor merasa dipepet oleh mobil yang dikendarai MA. "Kejadiannya sekitar 20 menit karena berhasil dilerai sama Polisi Militer yang datang berseragam dan pakai mobil warna putih. Si penembak juga langsung dibawa Polisi Militer," kata Andri.

Kamis, 03 Mei 2012

Anggota TNI Cari-cari Korban "Koboy Palmerah"
Seorang lelaki berbaju putih menenteng pistol saat berseteru dengan seorang pengendara sepeda motor (mengenakan helm) di Jl Tentara Pelajar, Jakarta Pusat, Senin (30/4/2012), persis di samping studio Kompas TV. 
JAKARTA — Tiga hari setelah peristiwa aksi umbar tembakan "Koboy Palmerah" terjadi, Soeng Simon Priadi (25), yang menjadi korban dalam peristiwa itu, rupanya dicari-cari aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada dua kelompok pria yang datang ke rumah keluarga Simon pada Rabu (2/5/2012).
Demikian diungkapkan Mamat, salah seorang pekerja di rumah keluarga Soeng di kawasan Tomang, Jakarta Barat, Kamis (3/5/2012) siang. "Kemarin juga ada yang cari-cari mas Simon dari tentara," ucap Mamat.
Mamat menjelaskan, tentara yang datang ke rumah itu ada dua kelompok. Yang pertama datang di pagi hari dan kedua siang hari. "Waktu itu di rumah tidak ada orang, hanya saya, pembantu, dan Pak Soeng," tutur Mamat.
Kelompok tentara yang datang di pagi hari, katanya, terdiri dari tiga orang. Dua pria di antaranya memakai pakaian dinas polisi militer dan satu orang lagi mengenakan pakaian preman. Mereka datang menggunakan satu buah mobil Kijang warna merah sekitar pukul 09.00 WIB.
"Mereka cari-cari Mas Simon, katanya untuk jadi saksi," ujar Mamat.
Sementara kelompok kedua yang datang, lanjutnya, terdiri dari 3-4 orang pria berbadan tegap dan berambut cepak juga mencari Simon. Mereka datang menggunakan sebuah sedan putih pada pukul 12.00 WIB.
"Tapi yang kedua tidak pakai baju dinas. Mereka minta KTP pembantu, tapi enggak dikasih karena KTP pembantu kan ada di majikannya. Sepertinya masih satu kelompok dengan yang sebelumnya," ujar Mamat.
Pada Kamis pagi ini, Mamat juga sempat ditanyai oleh seorang pria yang bertanya tentang keberadaan Simon. Namun, orang itu berlalu begitu saja saat Mamat menjelaskan bahwa Simon tidak ada di rumah. Dikatakan, pria yang sudah lama kenal dengan keluarga Soeng ini, semenjak dirinya bekerja sekitar delapan hari lalu, tidak pernah sekali pun dia melihat Simon.
"Saya kenal dengan tantenya Simon, tapi dengan Simon sendiri enggak pernah ketemu. Dia enggak ada di sini sejak saya kerja," katanya.
Wakil Sekretaris RT setempat, Suparmin, mengungkapkan bahwa Simon sebenarnya tidak tinggal di kompleks itu. Sudah belasan tahun lalu, Simon bersama ibunya, Soeng Monika, pindah ke kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
"KTP-nya Simon dan ibunya memang di sini. Tapi mereka sudah lama pindah ke Kebayoran Baru sejak lama, saya sudah enggak pernah ketemu lagi," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Simon menjadi korban aksi umbar tembakan aparat TNI AD bernama Kapten MA pada Senin (30/4/2012) siang di depan kantor Kompas TV, Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Insiden itu direkam oleh warga sekitar. Video berdurasi 2 menit dengan judul "Koboy Palmerah" itu kemudian diunggah oleh akun bernama Unplugged The TV pada Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 13.00.
Video tersebut dimulai dengan aksi Kapten MA yang tengah mengintimidasi Simon. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dari senjata yang dipegang Kapten MA. Saat itu, Kapten MA berdiri di belakang mobil Toyota Avanza berpelat nomor 1394-00 warna hijau dof milik TNI AD. Ia terlihat emosional dan mulai menghardik Simon yang berkaus biru dan masih menggunakan helm putih berdiri di depan sepeda motor miliknya.
Kapten MA juga menenteng senjata mirip senjata api jenis FN dan sebuah tongkat besi. Ia berkali-kali menghardik Simon sambil memukulinya dengan tangan ataupun senjata yang digenggamnya ke arah kepala dan paha Simon.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Andri, perselisihan antara keduanya terjadi karena pengendara sepeda motor merasa dipepet oleh mobil yang dikendarai MA. "Kejadiannya sekitar 20 menit karena berhasil dilerai sama polisi militer yang datang berseragam dan pakai mobil warna putih. Si penembak juga langsung dibawa polisi militer," kata Andri.